Proses Berlangsungnya Krisis Teluk I

    Home/Pendidikan / Proses Berlangsungnya Krisis Teluk I
Proses Berlangsungnya Krisis Teluk I

Proses Berlangsungnya Krisis Teluk I

Posted in Pendidikan gjlkc 0

Proses Berlangsungnya Krisis Teluk I

Proses Berlangsungnya Krisis Teluk I

Proses Berlangsungnya Krisis Teluk I

Krisis Iran & Iran meningkat

akibat serangan granat pada tanggal 1 April 1980 terhadap Wakil PM Irak Tariq Aziz yang diduga bertanggung jawab atas aksi-aksi subversi terhadap Iran & akibat serangan beberapa hari kemudian terhadap iring-iringan jenazah ajudan-ajudan Aziz yang tewas dalam serangan itu. (Tariq Aziz sendiri selamat). Presiden Saddam Hussein menyalahkan Iran & sebagai pembalasan mengusir ribuan orang keturunan Iran serta melancarkan serangan sengit terhadap pribadi Ayatullah Khomeini. Selain itu, Saddam Hussein juga menuntut Iran untuk merundingkan kembali perjanjian Algiers & mengembalikan 3 pulau kecil di selat Hormuz yang didudukinya sejak tahun 1971 kepada kedaulatan Arab. (https://bandarlampungkota.go.id/blog/tabel-sistem-periodik-unsur-kimia-dan-gambar-hd/)

Pada tanggal 9 & 10 April 1980

Menlu Iran Gotbzadeh menanggapinya dengan berjanji akan menjatuhkan rezim Baath di Baghdad & memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Presiden Bani Sadr menambahkan bahwa nasionalisme Arab adalah anti Islam & sama dengan zionisme. Pada waktu yang sama terjadi perang pers & media massa lainnya. Di Iran media massa menonjolkan keunggulan tema-tema Pan Islam atas kepentingan-kepentingan Arab, sedangkan di Irak diagung-agungkan cita-cita Pan Arab. Eskalasi itu segera menjalar ke bidang militer. Terjadi bentrokan-bentrokan perbatasan & kedua negara mengadakan latihan-latihan Angkatan Laut di Teluk. Selain itu Baghdad mengirimkan lebih banyak pasukan ke perbatasan sampai jumlahnya mencapai 150.000 orang & sebagai tanggapan Iran memperkuat pos-pos militernya. Dalam hal ini Iran mendapat bantuan dari Suriah yang juga bermusuhan dengan Irak. Dengan demikian ketegangan Irak & Iran semakin meningkat & rakyat kedua negara disiapkan untuk segala kemungkinan.

Dalam perkembangan selanjutnya

bentrokan bersenjata sepanjang perbatasan menjadi semakin banyak & sengit. Korban jiwa berjatuhan di kedua belah pihak. Pada tanggal 17 September 1980, Presiden Saddam Hussein secara sepihak membatalkan Perjanjian Algiers tahun 1975. Iran melihatnya sebagai suatu pernyataan perang & pada tanggal 20 September 1980, Presiden Bani Sadr mengumumkan bahwa dia mengambil alih komando operasi-operasi di perbatasan. Sejak hari itu terjadi pertempuran-pertempuran sepanjang perbatasan yang sengit & banyak jatuh korban jiwa. Untuk memperkuat tuntutan-tuntutannya, pada tanggal 22 September 1980 Irak mengerahkan enam pesawat tempurnya untuk menyerang lapangan terbang Iran, termasuk lapangan terbang Teheran. Iran tidak menghiraukan tuntutan Irak & pada hari berikutnya Angkatan Udara Iran membalas menyerang Baghdad & kota-kota penting lainnya di Irak. Pada hari itu juga Angkatan Udara Irak melintasi perbatasan & menyerbu wilayah Iran melalui beberapa poros. Angkatan Darat Iran memberikan perlawanan yang gigih & dengan demikian pecahlah perang antara Irak dengan Iran atau Krisis Teluk I.

Strategi Baghdad

adalah dengan cepat menguasai beberapa kota penting di Provinsi Khuzestan & setelah itu menekan Iran untuk menghentikan tembak menembak & mengadakan perundingan-perundingan untuk menyelesaikan sengketa antara Irak dengan Iran. Kota-kota yang akan diduduki itu akan digunakan untuk memperkuat kedudukan tawar menawarnya di meja perundingan. Menurut perhitungannya, Irak akan mudah mematahkan perlawanan Iran & dengan cepat mencapai sasaran-sasaran ofensifnya. Sebagai akibat revolusi pemimpin Ayatullah Khomeini, kemampuan militer Iran menurun drastis. Angkatan bersenjata dibenci & dicemooh oleh rakyat sebagai alat yang digunakan Shah Reza untuk menindas rakyat. Sekitar 60% anggotanya melakukan desersi, sedangkan banyak  perwira senior dijatuhi hukuman mati, dipenjarakan atau dipensiunkan. Moral pasukan-pasukan Iran sangat merosot. Selain itu sebagai akibat pecahnya krisis dengan AS, angkatan bersenjata Iran mengalami banyak kesulitan dalam hal latihan, perawatan perlengkapan militer, suplai suku cadang serta amunisi.
Dengan begitu bukanlah maksud Baghdad untuk melancarkan perang tolal. Irak hanya bermaksud menguasai beberapa kota penting guna memperkuat kedudukannya di meja perundingan. Dan memberi peluang kepada oposisi dalam negeri Iran untuk memberontak & menumbangkan rezim Khomeini serta membentuk suatu pemerintahan yang bersahabat. Jika strateginya itu berhasil, Presiden Saddam Hussein akan muncul sebagai pemimpin dunia Arab & Irak menjadi kekuatan dominan di kawasan Teluk. Sebagian besar negara Arab tidak senang dengan rezim Khomeini karena berusaha mengekspor revolusi Islam Iran ke negara-negara lain sehingga mengganggu kestabilan & keamanan mereka. Kedudukan dominan di kawasan Teluk & kepemimpinan di Dunia Arab itu rupanya juga ikut mendorong Irak untuk menyerang Iran. Dengan begitu maka perang antara Irak & Iran juga mempunyai dimensi perebutan kekuasaan regional.

Perhitungan Irak tenyata salah

Di luar dugaan, Iran mampu memberikan perlawanan gigih & secara bertubi-tubi melancarkan serangan-serangan udara & laut, bukan saja terhadap sasaran-sasaran udara & laut, bukan saja terhadap sasaran-sasaran militer melainkan juga sasaran-sasaran ekonomi. Sebagai akibatnya Irak tidak berhasil menguasai kota-kota sasaran ofensifnya dengan cepat & kemajuan-kemajuannya harus dibayar mahal. Banyak instalasi minyak, khususnya kilang-kilang minyaknya mengalami kerusaan berat. Dalam keadaan itu Irak juga terpaksa menyerang sasaran-sararan ekonomi Iran, termasuk instalasi minyak di Provinsi Khuzestan yang semula dihindarinya. Dengan begitu perekonomian kedua negara mendapat pukulun berat. Untuk  sementara waktu ekspor minyak melalui Teluk & selat Hormuz terpaksa dihentikan & pendapatan minyak mereka berhenti atau berkurang.
Harapan bahwa ofensif Irak akan mengobarkan pemberontakan melawan rezim Khomeini sejauh ini sia-sia. Seperti banyak terjadi dalam keadaan serupa, kelompok-kelompok yang saling bermusuhan merupakan pertikaian untuk bersama-sama menghadapi serangan Irak yang melanggar kedaulatan Iran & mengancam keutuhan wilayah, meskipun tidak jelas apakah minoritas Arab juga ikut dalam usaha untuk mengusir pasukan Irak. Serta tidak jelas apakah ribuan orang Iran  dalam pengasingan di Irak yang telah menyusun kekuatan untuk menumbangkan rezim Khomeini sudah bergerak atau masih menantikan saat yang baik. Bagaimana pun, kedudukan mereka sangat sulit. Apabila membantu Irak, maka mereka dicap sebagai pengkhianat negara, namun juga sulit untuk diam saja karena menyadari bahwa kesempatan untuk menumbangkan rezim Khomeini tidak akan terulang lagi.
Front pertempuran antara Irak & Iran terdiri atas 3 sektor yang jelas, yakni sektor utara, sektor tengah & sektor selatan. Kota terbesar di sektor utara adalah Qasr-e-Shirin yang terletak pada jalan raya utama Baghdad-Teheran. Kedua sektor lainnya terdapat di Provinsi Khuzestan. Sektor tengah meliputi kota-kota penting Dezful & Ahwaz, sedangkan sektor selatan mencakup Shatt al-Arab sepanjang 100 mil & kota-kota Pelabuhan Khorramshahr serta Abadan. Dari ketiga sektor itu, yang paling penting adalah sektor tengah.
Tujuan militer dasar Irak adalah seharusnya adalah memaksa militer Iran untuk berhenti dengan memotong arus minyak dari ladang-ladang minyak & kilang-kilang minyak di Khuzeztan. Sektor utara, sasaran gerak maju Irak yang pertama pada awal peperangan hanya secara tidak langsung menyentuh sasaran itu. Tetapi, sektor utara mempunyai arti strategi yang besar karena melalui jalan raya itu dari Teheran Iran bisa melancarkan serangan balasan yang mengancam Baghdad. Hal ini akan sulit bagi pasukan-pasukan Iran, sebab medan sebelah timur Qasr-e-Shirin berbukit-bukit & hanya ada satu jalan ke Kermanshah. Pasukan-pasukan Irak harus membangun suatu posisi untuk memblokir gerak serupa itu.
Sektor tengah Khuzestan adalah vital. Ibu kota provinsi, Ahwaz adalah pusat pertempuran setengah dosin pipa minyak dari ladang-ladang minyak ke Iran Timur Laut & Tengara. Satu perangkat pipa minyak membujur ke urusan utara dari Ahwaz melalui Dezful & merupakan sumber minyak utama bagi lain-lain daerah Iran. Beberapa daerah kecil tidak bergantung pada pipa minyak ini & lebih penting juga ada pipa subsidier ke & dari  Isfahan. Akan tetapi jika pasukan-pasukan Irak bisa memotong perangkat utama pipa itu mereka akan cepat mencapai sebagian besar sasaran mereka untuk membuat pesawat-pesawat tempur Iran kehabisan bahan bakar.
Sektor selatan tempat sebagian besar pertempuran berlangsung kurang menentukan. Bahkan apabila orang-orang Irak mencapai suatu kemenangan psikologis yang besar dengan merebut Khorramshahr & Abadan, perang tetap berlangsung. Sebaiknya perang akan berhenti apabila mereka menang di sektor tengah. Dengan begitu timbul pernyataan mengapa pasukan-pasukan Irak sejauh ini melakukan usaha pokok di sektor selatan ? Sebagian karena prestie. Mereka juga ingin menguasai Shatt al-Arab yang secara harfiah berarti pantai orang-orang Arab & meliputi tanah kering yang lebih tinggi dari pada pesisir & mereka ingin membuka jalan air itu sampai pelabuhan utama di Basra.
Cepatnya perang antara Irak & Iran akan berakhir sebagian bergantung pada kemampuan Irak untuk memotong suplai minyak dalam negeri Iran dengan menghancurkan perangkat pipa minyak dari Ahwaz ke Dezful yang merupakan sumber minyak utama bagi lain-lain daerah Iran. Hal ini juga bergantung pada suplai militer baru masing-masing pihak. Iran mendapat bantuan militer terbatas dari sejumlah negara seperti Libia, Suriah, Turki, Korea Selatan, Taiwan & lain sebagainya. Berkat solidaritas Arab, Irak lebih mudah memperoleh bantuan biarpun negara-negara Arab yang bersedia membantunya seperti Arab Saudi, Yordania, & Oman tidak bisa menggantikan senjata buatan Uni Soviet. Uni Soviet menolak permintaan Irak akan senjata-senjata baru, namun suplai biasa berjalan terus & dengan persetujuan raja Hussein yang secara terang-terangan mendukung Irak dibongkar di Aqaba & diangkut melalui darat ke Irak. Menurut Foreign Report, lebih dari 45 kapal suplai membongkar muatannya (200.000) ton di Aqaba. Secara demikian Irak bisa meningkatkan serangan-serangannya & berhasil maju terus biarpun secara lamban & tapak demi setapak.
Setelah berhasil menguasai kota-kota penting Khorramshahr, Abadan, Ahwaz & Dezful serta memutuskan suplai minyak dari Provinsi Khuzestan, pasukan-pasukan Irak melakukan konsolidasi & mengali parit-parit pertahanan. Setelah itu, Baghdad akan menawarkan untuk mengadakan perundingan-perundingan kepada Teheran guna menyelesaikan sengketa antara Irak & Iran. Akan tetapi pasukan-pasukan Iran kiranya akan terus menggempur posisi-posisi Irak sampai kehabisan suku cadang, amunisi & bakar kecuali apabila Iran berhasil mendapatkan suplai baru dalam jumlah besar. Dengan demikian sulit diperkirakan prospek peperangan ini.
Jika Iran dengan suplai baru berhasil mengusir pasukan-pasukan Irak dari wilayahnya & ganti menyerbu Irak untuk menghukumnya, maka Irak akan menderita kekalahan & terpaksa menerima syarat-syarat perdamaian Iran. Dalam keadaan itu, pemerintah Saddam Hussein dapat jatuh & digantikan pemerintah baru. Sebaliknya Irak, apabila berhasil mempertahankan kota-kota yang didudukinya & memperkuat kedudukannya akan mendapatkan tuntutan-tuntutannya itu & mendapatkan kembali seluruh Shatt al-Arab, dikembalikannya ketiga pulau itu kepada kedaulatan Arab, hak-hak minoritas Arab di Khuzestan yang sah & dihentikannya campur tangan Iran dalam urusan domestik Irak. Kemungkinan besar tidak ada pihak yang keluar dari peperangan ini dengan kemenangan yang menentukan. Dalam kenyataan kontra ofensifnya awal januari 1981 gagal. Dengan begitu Irak akan mencapai setengah kemenangan & Iran menderita setengah kekalahan.