Meski Remeh, Budaya Jujur Bila Tak Dipaksakan Akan Rusak Bangsa

    Home/Pendidikan / Meski Remeh, Budaya Jujur Bila Tak Dipaksakan Akan Rusak Bangsa
Meski Remeh, Budaya Jujur Bila Tak Dipaksakan Akan Rusak Bangsa

Meski Remeh, Budaya Jujur Bila Tak Dipaksakan Akan Rusak Bangsa

Posted in Pendidikan gjlkc 0

Meski Remeh, Budaya Jujur Bila Tak Dipaksakan Akan Rusak Bangsa

Meski Remeh, Budaya Jujur Bila Tak Dipaksakan Akan Rusak Bangsa

Meski Remeh, Budaya Jujur Bila Tak Dipaksakan Akan Rusak Bangsa

Dewasa ini bangsa Indonesia menghadapi persoalan cukup besar. Terutama dalam hal karakter untuk bersikap jujur. Sikap jujur yang menjadi karakteristik dari anak bangsa akhir-akhir ini mengalami degredasi. Hal itu terlihat dengan banyak terungkapnya kasus korupsi oleh aparat hukum.

Fenomena inilah yang menggerakkan para seniman senior tanah air untuk berkolaborasi

mengkampanyekan Gerakan Budaya Kejujuran. Mereka adalah Roy Marten, Sys NS dan Arswendo Atmowiloto, Butet Kertarejasa.

Sys Ns berpendapat, selama ini kejujuran dianggap sebagai produk umum, pasaran, barang murah. Jika sikap jujur disimbolkan sebagai barang, maka hanya dianggap sebagai barang yang remeh-temeh.

“Tapi kalau kejujuran tidak dipaksa untuk singgah dipikiran, maka kejujuran bisa menjadi masalah bangsa,” terang Sys Ns kepada wartawan, Selasa (22/8).

Selama ini pendidikan budaya jujur memang kerap diajarkan di sekolah ataupun di rumah. Hanya saja, sikapnya bersifat formalitas. Penanamannya tetap di tengah kehidupan sehari-hari, melalui pendampingan dari orang tua.

Hal senada juga diungkapkan Butet Kertaradjasa, salah satu seniman penggiat Jaringan Pekerja Budaya.

Menurutnya, kejujuran itu pintu masuk semua kebaikan. “Membangun budaya kejujuran itu kan mestinya memang kewajiban kita semua,” kata Butet.

Sebelumnya para seniman itu telah melakukan pencanangan Gerakan Budaya Kejujuran di Monumen Gembok Kejujuran Madiun, pada 20 Juni 2017. Bahkan monumen akan diresmikan lagi pada 5 September 2017 lagi di Caruban, Kabupaten Madiun.

Ketua Presidium Jaringan Pekerja Budaya Harry Tjahjono menyebut, Gerakan Budaya Kejujuran tersemangati oleh tulisan Komaruddin Hidayat tentang “Mengapa Denmark Menjadi Salah Satu Negara Termakmur Dunia?”

Dalam tulisan itu, kata Harry, orang-orang Denmark justru percaya bahwa penyebab dari negaranya

menjadi negara termakmur, ternyaman dan teraman karena masyarakatnya jujur.

“Orang Denmark percaya bahwa semua kebaikan yang ada di negaranya berawal dari kejujuran. Sada saat seorang jujur, maka semua fasilitas umum untuk rakyat akan terbangun dengan baik oleh pemerintah, sebagaimana mestinya sesuai standar mutu yang telah ditetapkan di segala bidang mulai dari kesehatan, pendidikan, kesejahteraan,” tandasnya.

 

Sumber :

https://www.givology.org/~danuaji/blog/694053/