Mendikbud Kunjungi Sumbar, Muhadjir Effendy: Indonesia Butuh 29 Ribu Guru SMK

    Home/Pendidikan / Mendikbud Kunjungi Sumbar, Muhadjir Effendy: Indonesia Butuh 29 Ribu Guru SMK
Mendikbud Kunjungi Sumbar, Muhadjir Effendy: Indonesia Butuh 29 Ribu Guru SMK

Mendikbud Kunjungi Sumbar, Muhadjir Effendy: Indonesia Butuh 29 Ribu Guru SMK

Posted in Pendidikan gjlkc 0

Mendikbud Kunjungi Sumbar, Muhadjir Effendy: Indonesia Butuh 29 Ribu Guru SMK

Mendikbud Kunjungi Sumbar, Muhadjir Effendy Indonesia Butuh 29 Ribu Guru SMK

Mendikbud Kunjungi Sumbar, Muhadjir Effendy Indonesia Butuh 29 Ribu Guru SMK

Selama satu hari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP berkunjung ke Sumbar. Di Padang Mendiknas membuk Seminar  Seminar Nasional Pendidikan (Semdik) di Padang, Sabtu (24/09/2016). Seminar membahas tentang Profesi Guru dan Tantangan Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Pada kesempatan ini Mendikbud menjadi keynote speaker yang dipandu Rektor UBH Nicky Lutviarman.

Ini merupakan kunjungan pertama Mendikbut ke Sumatera Barat. Acara ini dihadiri oleh Wakil Gubernur Sumbar

Nasrul Abit, Sekjen Kemendikbut RI, Kadis Pendikbud Sumatera Barat Burhasman, Pimpinan Muhammadyah Sumatera Barat Sofwan Karim, para guru dan mahasiswa calon guru. Mendikbut Muhadjir Effendy mengatakan,

“Presiden memberikan 3 fokus kepada saya sebagai menteri, yakni pada pendidikan vokasi, kartu indonesia pintar, revolusi mental, yang terfokus pada isu disparitas dan kesenjangan.

Kesenjangan dibidang pendidikan terbagi 3, yakni kesenjangan struktural yakni ketidaksanggupan untuk sekolah, kesenjangan cultural yakni budaya menganggap sekolah tidak penting, dan kesenjangan spasial karena tempat yang jauh dan terpencil.

“Kartu Indonesia Pintar inilah cara kita membantu agar masyarakat miskin/kurang mampu

untuk dapat bersekolah,” ucap Mendikbud.

Selain itu, Pemerintah sedang fokus pada pendidikan vokasi atau keterampilan. Dimana saat ini, struktur tenaga kerja di Indonesia seperti piramida tegak, dengan tenaga kerja yang tidak memiliki keterampilan sangat banyak. Oleh sebab itu pemerintah mendorong pendidikan vokasi agar pendidikan terampil dapat meningkat, sehingga dapat meningkatkan daya saing.

Faktor lemahnya daya saing disebabkan karna tidak ada pendidikan berkarakter, oleh sebab itu revolusi mental merupakan cara membentuk karakter bangsa. Pendidikan berkarakter difokuskan di SD, SMP, SMA/MA dan SMK. Full day school bukan sekolah setaiap hari, tapi pentingnyan pendidikan karakter pada pendidikan dasar dan SMP.

Oleh karena itu, guru menjadi kunci penting dalam membangun karakter bangsa. Penting

membuat guru menjadi sebuah profesi yang profesional. Secara tunjangan untuk profesi guru sudah 80 triliun untuk 2 jutaan guru, namun aspek profesionalisme masih belum,

Probelmnya untuk mengembangkan pendidikan vokasi adalah terbatasnya guru, dan tidak ada LPT yang mata kuliahnya mencetak guru vokasi yang terampil, seperti guru dibidang kelautan/kemaritiman.

“Kita butuh 29 ribu guru SMK, namun guru tidak ada, dan LPTk juga tidak ada menfasilitasi,” ucap Muhadjir Effendy.

 

Sumber :

https://www.emailmeform.com/builder/form/XN6zDb1uUhe91243beccIm