KPAI Minta Pendidikan Agama Dipertahankan dan Metode Serta Materinya Diperbaiki

    Home/Pendidikan / KPAI Minta Pendidikan Agama Dipertahankan dan Metode Serta Materinya Diperbaiki
KPAI Minta Pendidikan Agama Dipertahankan dan Metode Serta Materinya Diperbaiki

KPAI Minta Pendidikan Agama Dipertahankan dan Metode Serta Materinya Diperbaiki

Posted in Pendidikan gjlkc 0

KPAI Minta Pendidikan Agama Dipertahankan dan Metode Serta Materinya Diperbaiki

KPAI Minta Pendidikan Agama Dipertahankan dan Metode Serta Materinya Diperbaiki

KPAI Minta Pendidikan Agama Dipertahankan dan Metode Serta Materinya Diperbaiki

Pernyataan praktisi pendidikan Setyono Djuandi Darmono

soal penghapusan pendidikan agama di sekolah mendapat tanggapan banyak pihak. Ada yang pro, namun tidak sedikit pula yang kontra.

Terkait hal tersebut, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) berharap materi dan metode pembelajaran pendidikan agama di sekolah tidak dihapus. Tapi dilakukan perubahan.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti menyayangkan informasi yang beredar di media sosial soal usulan penghapusan pendidikan agama di sekolah. Padahal ujar Retno, usulan tersebut berasal dari seseorang yang tidak ada kaitannya dengan pemerintah.

“Sebenarnya, polemik tersebut muncul hanya dari usulan seorang WNI

bernama Darmono, hanya usulan. Bahkan sebenarnya usulan tersebut dapat diabaikan pemerintah. Karena pemerintah Indonesia memang tidak pernah merencanakan penghapusan pelajaran agama di sekolah,” jelas Retno, Selasa (9/7/19).

Retno menambahkan, pendidikan agama masih diperlukan di sekolah sesuai dengan istilah ‘TriPusat Pendidikan’ yang disampaikan bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara.

“Ki Hajar menyebutnya dengan istilah ‘TriPusat Pendidikan’. Artinya, pendidikan agama sejatinya memang diajarkan di semua ranah. Yaitu di keluarga, di sekolah dan di masyarakat,” tambah Retno.

Dengan demikian, pendidikan agama tetap harus dipertahankan di sekolah

. Namun, KPAI meminta materi dan metodenya harus diperbaiki.

“KPAI tentu mendukung pendidikan agama tetap diberikan di sekolah. Namun substansi materi yang diajarkan maupun metode pembelajarannya memang masih memerlukan masukan banyak pihak, agar menjadi tepat dan bermakna,” tuturnya.

Selama ini, lanjut Retno, proses pembelajaran di sekolah yang digunakan guru masih konvesional. Sehingga kurang membuka ruang dialog bagi para siswa untuk menangkal paham radikal.

“Sehingga kurang membangun daya kritis peserta didik. Ketika budaya literasi terjadi di sekolah, maka ruang dialog dan kemampuan berpikir kritis akan terbangun dengan sendirinya. Sehingga sekolah dapat dengan mudah menangkal paham radikal dan fanatisme sempit lainnya,” terangnya lebih lanjut.

 

Sumber :

https://connect.barton.edu/ICS/Academics/BUS/CIS_PLA/Special_Courses-CIS_PLA-CIS_1/Blog_1.jnz?portlet=Blog_1&screen=View+Post&screenType=next&Id=66dee9a0-de10-48a4-b22c-5480945b5945