Kehidupan Sosial, Ekonomi dan Budaya Bangsa Arab Pra Islam

    Home/Pendidikan / Kehidupan Sosial, Ekonomi dan Budaya Bangsa Arab Pra Islam
Kehidupan Sosial, Ekonomi dan Budaya Bangsa Arab Pra Islam

Kehidupan Sosial, Ekonomi dan Budaya Bangsa Arab Pra Islam

Posted in Pendidikan gjlkc 0

Kehidupan Sosial, Ekonomi dan Budaya Bangsa Arab Pra Islam

Kehidupan Sosial, Ekonomi dan Budaya Bangsa Arab Pra Islam

Kehidupan Sosial, Ekonomi dan Budaya Bangsa Arab Pra Islam

Dalam bidang budaya

watak seni orang Arab Pra Islam dituangkan ke dalam satu media, yakni ungkapan. Jika orang-orang Yunani mengungkapkan seni melalui patung & arsitektur, maka orang-orang Arab pra-Islam mengungkapkannya dalam bentuk syair. Ada paribahasa Arab yang menarik yang menggambarkan tingginya nilai syair, yakni “keelokan seseorang terletak pada kefasihan lidahnya”. Bahkan ada peribahasa lain yang menyatakan bahwa “kebijakan muncul dalam 3 hal; otak orang Prancis, tangan orang Cina, & lidah orang Arab”. Kefasihan, yakni kemampuan untuk mengungkapkan jati diri secara tegas & elegan dalam bentuk prosa & puisi. Kemampuan dalam bersyair, menunggang kuda & memanah pada masa Arab pra-Islam dipandang sebagai 3 ciri utama manusia sempurna (al-kamil).
Para penyair Arab pra-Islam pada mulanya adalah orang yang memiliki kemampuan untuk mencapai pengetahuan yang tersembunyi bagi sebagian besar manusia, yakni pengetahuan dari setan. Seorang penyair dianggap bisa memiliki kemampuan berhubungan dengan alam ghaib & melalui kutukannya bisa menimpakan bencana kepada musuhnya. Oleh sebab itu, bentuk syair atau puisi Arab yang pertama kali berkembang adalah puisi hujatan atau satir (hija). Seiring dengan perkembangan karismanya, seorang penyair memainkan berbagai peran sosial. Dalam pertempuran, lidahnya sama efektifnya dengan keberanian masyarakatnya. Pada masa damai, kecaman pedas seorang penyair merupakan ancaman bagi ketertiban publik. Seorang penyair bisa membuat sebuah suku mengambil tindakan tertentu dipengaruhi oleh puisi-puisinya yang mirip dengan hasutan seorang demagog dalam sebuah kampanye politik modern. (https://bandarlampungkota.go.id/blog/pancasila-sebagai-dasar-negara/)
Seorang penyair selain menjadi dukun, penuntun, orator, & juru bicara kaumnya juga merupakan sejarawan & ilmuwan. Orang-orang Baidah mengukur kecerdasan seseorang berdasarkan puisinya. Sebagai seorang sejarawan & ilmuwan sukunya, seorang penyair sangat memahami geneologi & dongeng-dongeng rakyat, mengenai prestasi & pencapaian sukunya pada masa lalu, mengetahui hak-hak mereka, serta mengenali padang rumput & batas-batas wilayah mereka. Lebih jauh lagi, sebagai seorang pemerhati kelemahan psikologis & kegagalan historis suku-suku lawannya, seorang penyair mempunyai kewajiban untuk mengungkapkan secara luas kekurangan itu & menjadikannya sebagai bahan ejekan. Puisi pada masa Arab pra-Islam memiliki signifikansi historis yakni sebagai bahan utama untuk mengkaji perkembangan sosial yang terjadi pada saat puisi-puisi itu dibuat.

Kebudayaan Arab Pra-Islam

adalah kebudayaan yang identik dengan mistik. Disekitar Mekkah terdapat Bukit Qaf yang dikenal sebagai tempat media antara manusia dengan alam ghaib. Orang-orang Arab pra-Islam menjadikan bukit Qaf sebagai tempat untuk  mengajukan hal-hal yang menjadi problem dalam kehidupan mereka untuk memecahkan masalah yang pelik & menyakini sebagai tempat yang keramat. Selain bukit Qaf juga ada Gua Hira yang dikenal sebagai tempat nabi bersemedi, juga jauh sebelum Islam datang dikenal sebagai tempat orang-orang penganut al-Hanifiyyah untuk melakukan semedi.

Orang-orang Arab pra-Islam

mempunyai kebiasaan & kebudayaan membangun komunikasi dengan alam ghaib. Konon, dalam hal puisi juga dibuat setelah mendapatkan ilham dari alam gaib. Menurut Albert Hourani, puisi begitu kuat menjadi bahasa publik, terutama jika dilihat dalam puisi-puisi yang berbentuk qashida, diwan, mu’allaqat. Puisi-puisi sering digantung di dinding-dinding Ka’bah sebagai bagian dari upaya untuk menunjukkan eksistensi mereka. Ada tokoh-tokoh yang dikenal antara lain Labid, Zuhayr, Imru el-Qays, dll.
Secara sepintas, Arab pra-Islam merupakan lokus masyarakat yang mempunyai kebudayaan & bisa membangun relasi antar manusia yang relatif dinamis. Hal ini juga ditunjukkan dari sikap orang-orang Arab pra-Islam pada umumnya & Mekkah pada khususnya yang ramah dalam menerima tamu. Para tamu diperlakukan dengan sangat baik. Ajaran tentang ramah tamah telah memberikan inspirasi kepada para tamu yang datang bahwa kekuasaan Mekkah juga disempurnakan dengan keramahan penduduknya, khususnya kabilah Quraysh.
Pemandangan seperti itu masih membekas bahkan menjadi salah satu keistimewaan warga Arab khususnya yang tinggal di sekitar Mekkah, sebab mereka sadar bahwa sebagai tempat yang menyimpan sejarah bagi peradaban manusia, Mekkah harus memberikan contoh terbaik untuk membangun solidaritas sosial. Hidup di tengah kemajemukan adalah adanya kehangatan persahabatan & saling menghormati di antara kelompok. Warga Arab di Mekkah telah menjadi warisan sejarah yang sangat berarti dalam rangka membina hubungan antar kelompok yang dibangun di atas prinsip toleransi.
Satu istilah yang penting dijelaskan di sini adalah perihal konteks sosial masyarakat Arab pra-Islam, yakni al-Jahiliyyah. Bagi sebagian kalangan, al-Jahiliyyah diartikan sebagai komunitas orang yang bodoh, tidak berpendidikan. Mereka memahaminya hanya dari segi kebahagiannya. Apakah benar masyarakat Jahiliyah itu benar-benar bodoh? Muhammad al-Jabiry membantah pandangan itu karena orang-orang Arab pra-Islam sudah mempunyai kebudayaan sendiri. Mereka sudah mempunyai nalar yang memungkinkan diantara mereka hidup dengan sistem kebudayaannya. Pandangan itu juga dibenarkan oleh Philip K. Hitti dalam The History of The Arabs, karena orang-orang Arab selatan sudah mengenal baca tulis. Pemaknaan yang lebih tepat dari istilah Jahiliyyah, yakni masyarakat yang tidak mempunyai otoritas hukum, nabi, & kitab suci. Masyarakat Jahiliyyah ada hakikatnya lebih tepat disebut sebagai masyarakat primitif karena mereka hidup sebagaimana layaknya masyarakat yang lain. Hanya saja sistem hidupnya ditentukan sejauhmana otoritas klan & kekuasaan ekonomi mempengaruhi sebuah tatanan sosial.

Amstrong juga membenarkan pandangan Philip K. Hitti

sebab masyarakat Arab Pra-Islam adalah masyarakat pagan meskipun kehidupan mereka relatif modern. Ada beberapa penganut Yahudi di Yatsrib, Khaybar & Fadek & sebagian lagi memeluk Kristen Suriah namun jumlahnya tidak begitu signifikan. Mayoritas penduduk Mekkah adalah orang-orang Pagan. Dalam sejumlah sumber sejarah kita mengenal nama-nama orang Kristen seperti Waraqah bin Naufal & Pendeta Buhaira. Menurut Fahmi Huwaydi, orang-orang Kristen lebih banyak tinggal di Mekkah, sedangkan orang-orang Yahudi berdomisili di Yatsrib. Meskipun begitu, jumlah mereka tidak signifikan sebab, sebagian besar penduduknya adalah pagan. Kakek Nabi Muhammad saw, Abdul Muthalib adalah penganut pagan & bertahan atas keyakinannya sampai meninggal dunia. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Abdul Muthalib bertahan pada posisinya agar menjadi bagian dari komunitas yang merupakan mayoritas & juga agar bisa melindungi cucunya yang diramal banyak kalangan sebagai pembawa ajaran monotheisme sebagaimana yang dibawa oleh Ibrahim.
Tidak adanya norma, hukum & nabi di tengah-tengah kalangan Quraish telah menyebabkan munculnya konflik diantara mereka. Maka pada saat itu, lalu dikenal dengan istilah Ayyam al-Arab (Hari-Hari Orang Arab). Menurut Philip K. Hitti, tradisi ini mengisahkan tentang permusuhan antar suku yang disebabkan oleh persengketaan dalam soal hewan ternak, padang rumput & mata air. Konteks sosial itu merupakan salah satu cara masyarakat Arab bertahan hidup, khususnya bagi orang-orang Baidah. Pada saat hidup dalam kelaparan, maka cara terbaik untuk mempertahankan hidup adalah berperang.
Bahkan hal itu bisa menjadi salah satu ekspresi keberagaman mereka dalam ranah sosial. Meskipun begitu, satu hal yang perlu mendapatkan apresiasi bahwa mereka juga tidak menjadikan persengketaan sebagai tradisi yang permanen. Ada kalanya berdamai, terutama apabila ada pihak ketiga yang lebih netral. Bukan hanya itu saja, mereka yang korbannya lebih sedikit harus membayar tebusan kepada pihak yang korbannya lebih besar. Jumlah tebusan disesuaikan dengan kerugian yang dialami oleh pihak yang korbannya lebih besar. Ada sejumlah perang yang dapat dicatat, antara lain perang Basus & Banu Bakr yang kasusnya sepele. Perang Basus disebabkan oleh unta betina milik perempuan Basus dilukai oleh kepala suku Tahlib. Ada juga perang Dahis & al-Ghabra yang sangat dikenal pada periode Jahiliyyah.
Satu hal yang perlu mendapatkan perhatian perihal periode Jahiliyyah ini bahwa meskipun mereka berperang antara satu suku dengan suku lain, namun mereka telah mempunyai kebudayaan yang tinggi, terutama dalam hal puisi. Salah seorang penyair yang terkenal pada zaman itu adalah Antarah bin Syaddad. Ia ikut terlibat dalam peperangan tetapi juga menulisnya dalam bentuk puisi-puisi. Dalam hal ini, tidak dapat diragukan lagi tentang kedahsyatan bahasa Arab, yang mana keindahannya bisa menyihir perasaan seseorang. Menurut Philip K. Hitti jika orang-orang Yunnai menuangkan kesenian mereka dalam arsitektur, maka orang-orang Arab menuangkan dalam bentuk ungkapan. Dari sini juga bisa dipahami kenapa Al-Quran menggunakan bahasa yang tingkat keindahnnya sangat tinggi karena dalam rangka menyesuaikan dengan kebudayaan pada zamannya.

Dari penjelasan di atas

dari segi kelompok terdapat 3 kelompok yang dapat diidentifikasikan sebagai Jahiliyyah. Pertama, masyarakat Pagan yang nomaden. Mereka adalah kelompok yang kaya & mempunyai  tradisi keberagaman yang sangat beragam. Tradisi mereka yang nomaden masih memberikan ruang untuk mencari agama yang memberikan solusi terhadap kebutuhan pokok sehari-hari, seperti air & menyembuhkan penyakit. Kedua, masyarakat Pagan yang menetap. Mereka pada umumnya tinggal di Mekkah. Apabila dibandingkan dengan masyarakat Pagan yang nomanden, mereka yang menetap lebih religius. Mereka memanifestasikan sebagai kelompok yang menyakini neo-animisme, yakni paham yang memediasi antara Tuhan dengan ciptaan-Nya. Mereka sudah menyebut Tuhan mereka dengan Allah.
Dari segi keyakinan, mereka dikenal sebagai penyembah berhala. Ada tiga berhala yang sangat populer pada saat itu yakni Al-Uzza, Al-Lat, & Manat. Ketiganya diyakini sebagai anak perempuan Tuhan. Al-Lat (Tuhan Perempuan) berada di dekat Thaif. Di Thaif, orang-orang Mekkah berkumpul untuk melaksanakan haji & menyembelih binatang kurban. Ada aturan yang harus dipatuhi oleh para penyembah berhala al-Lat, yakni larangan untuk menebang pohon, memburu binatang & menumpahkan darah. Mereka melarang siapapun untuk mengganggu & menebang pohon karena diyakini disitulah Tuhan mereka berada. Sedangkan Al-Uzza (yang paling Agung) berada di Nakhlah sebelah timur Mekkah. Al-Uzza menjadi berhala yang paling diagungkan oleh para orang-orang Quraish. Cara pemujaannya dengan menggunakan 3 batang pohon. Adapun Manat (pembagian nasib) adalah dewa yang menentukan & menguasai nasib. Lokasinya berbentuk batu hitam di Qudayd, wilayah antara Mekkah & Madinah. Dewa ini sangat populer bagi orang-orang Arab. Bahkan menurut K. Hitti, Manat digunakan sebagai salah satu rujukan sebelum Nabi Muhammad saw. Melainkan hijrah ke Madinah. Di samping itu juga ada Hubal yang merupakan dewa tertinggi di Ka’bah. Hubal berbentuk manusia yang mana di sampingnya disediakan busur panah yang digunakan untuk mengundi nasib para peramal.
Di antara orang-orang Arab juga ada peramal yang disebut Kahin. Mereka pada hakikatnya para ahli puisi yang menyampaikan sejumlah pesan suci melalui syair-syair. Mereka adalah para spiritualis yang menggunakan puisi atau syair sebagai media untuk menyampai  pesannya. Di samping itu, mereka juga meramal mimpi, menemukan para kriminal, binatang yang hilang, pertentangan & hal-hal etik lainnya. Oleh sebab itu, mereka dikenal sebagai kelompok masyarakat yang bisa menafsirkan kehendak Tuhan.
Kelompok ketiga, yakni mereka yang meyakini adanya Tuhan, namun tidak menafikan keberadaan kelompok lain. Max Miller menyebut mereka dengan henotheism. Kelompok ini pelan-pelan bisa mengambil alih dominasi dari kelompok kedua karena mereka mempunyai sebuah pandangan yang relatif rasional & mempunyai kenyamanan bagi spiritualitas mereka sehingga kemudian mereka disebut dengan Hanifsm.
Dari paparan di atas bisa dijelaskan bahwa Jahiliyyah bukan dalam makna yang literal, melainkan mengacu pada kenyataan masyarakat Arab pra-Islam yang  pada umumnya mempunyai keyakinan yang lebih dekat pada polytheisme dari pada monotheisme. Istilah Jahiliyyah digunakan oleh Al-Quran dalam rangka memberikan garis pemisah antara kebudayaan sebelum & setelah Islam, yang artinya bahwa setelah Islam datang maka Arab tidak akan kembali pada masa lalunya, yakni telah berubah menjadi tempat di mana tidak ada ruang bagi polytheisme atau kemusyrikan.
Meskipun begitu ada yang menyatakan bahwa tradisi yang berkembang pada zaman Jahiliyyah tidak sepenuhnya negatif sebagaimana disampaikan sebagian kalangan. Menurut Ibnu Oarnas, tradisi Jahiliyyah juga memberikan sesuatu yang sangat baik, khususnya dalam rangka mengantarkan masyarakat Arab bisa menerima ajaran Islam. Meskipun dalam sejarah disebutkan proses transformasi dari Jahiliyyah mengalami ketegangan, tetapi harus diakui juga bahwa transmisi itu berjalan damai. Islam datang tidak dalam rangka menghadirkan sesuatu yang benar-benar baru bagi mereka, justu melanjutkan sejumlah tradisi yang berkembang di tanah Arab. Setidaknya hal itu dikonfirmasi oleh Al-Quran bahwa haji merupakan ritual yang awalnya dilakukan oleh Nabi Ibrahim & keluarganya.
Sulaiman Bashir membenarkan bahwa tradisi Jahiliyyah merupakan semen yang memperkuat Mekkah sebagai sebuah pusat perhatian masyarakat Arab. Tradisi Jahiliyyah telah menjadi ruh yang bisa melahirkan peradaban dunia. Di antaranya, meskipun sangat banyak kepercayaan & agama yang berkembang, namun perlindungan terhadap Ka’bah & yang berziarah ke Ka’bah membuktikan komitmen mereka untuk menjadikan Mekkah sebagai salah satu kota suci yang berpengaruh di dunia. bagaimanapun mereka yang hidup pada zaman Jahiliyyah mempunyai peran yang tidak sedikit bagi kelestarian Ka’bah sebagai simbol keagungan Islam.
Gua Hira merupakan salah satu bukti yang mana tradisi yang berkembang pada masa Jahiliyyah turut mengantarkan kehadiran Islam. Di dalam banyak riwayat disebutkan bahwa orang-orang Mekkah terbiasa melakukan olah spiritual di gua Hira. Tradisi inilah yang kemudian diikuti oleh Muhammad saw. Sebelum mendapatkan wahyu yang pertama. Ada pihak lain yang mengatakan bahwa biasanya mereka bersemedi sebelum melakukan nota penandatanganan perjanjian.
Ahmad Amin dalam bukunya, Fajr al-Islam membuktikan bahwa kultur nomaden bukanlah sebuah kemunduran, namun sebuah tangga menuju peradaban. Memang kultur yang berkembang pada masyarakat Arab pra-Islam pada umumnya adalah kultur klenik, yang mempercayai takhayul & khurafat. Fakta Arab pra-Islam memang berbeda dengan Yunani yang dikenal kecenderungannya pada filsafat. Jika orang-orang Yunani melihat persoalan secara komprehensif dengan logika yang sempurna, namun orang-orang Arab cenderung melihat persoalan secara parsial. Meskipun begitu adalah yang biasa dalam sebuah masyarakat mempunyai individu-individu yang istimewa.
Kelompok kecil inilah yang menjadi lokomotif bagi kebangkitan sebuah masyarakat. Di samping itu, memang harus diakui bahwa Arab bukanlah masyarakat yang dikenal ilmu pengetahuan & filsafatnya. Menurut Ahmad Amin, Arab dikenal karena bahasa, puisi, amtsal, & kisah. Ketiga hal itu merupakan modal kebudayaan & rasionalitas yang memungkinkan sebuah masyarakat mempunyai kehidupan sendiri.
Syair merupakan salah satu kekuatan tersendiri karena hal itu sebagai cara untuk mengekspresikan perasaan orang-orang Arab. Para penyair dianggap sebagai kelompok yang mampu menyuarakan perasaan mereka sehingga kedudukan mereka sangat penting di samping para hakim yang bertugas untuk menyelesaikan persengketaan di antara mereka. Karya-karya sastra pra-Islam yang sangat populer antara lain; al-Mu’allaqat, al-Mufadhdhalat, Diwan al-Hamasah karya Abu Tamam & Bahtari, al-Aghani, Mukhtarat, karya Ibnu al-Syajari & karya lainnya yang dikenal dengan Abu Zayd al-Qurshy. Karya-karya itu pada umumnya dapat diakses & menjadi rujukan penting untuk mengetahui kehidupan Arab pada masa Jahiliyyah. Karya-karya itu menunjukkan kebudayaan yang tinggi, meskipun ada juga kekurangannya.
Arab pra-Islam, khususnya Mekkah juga ditandai dengan sebuah fenomena yakni perdagangan. Hal ini menunjukkan bahwa Arab pra-Islam telah membangun hubungan perniagaan dengan bangsa-bangsa lain. Menurut Zamakhsyari, Quraish yang merupakan pemegang otoritas tinggi Mekkah pasca kabilah Jurhum & Khuzaa sesungguhnya merupakan kelompok pekerja keras. Quraish berasal dari kata al-kasb, yang artinya orang-orang yang mempunyai etos kerja yang tinggi. Etos kerja mereka tidak hanya dilakukan di dalam Mekkah, namun justru membuka hubungan dengan bangsa-bangsa lain. pada musim dingin mereka datang ke Yaman yang dikenal sebagai salah satu kota perdagangan di Arab. Sedangkan pada musim panas mereka datang ke Yordania & Mesir.  Abdullah, ayah Muhammad saw, adalah seorang pedagang, bahkan ia meninggal dalam misi perdagangan. Khadijah binti Khuwaylid yang nantinya menjadi istri Muhammad saw, adalah seorang pedagang. Perempuan adalah salah satu penggerak perdagangan di Mekkah. Setidaknya ada sosok yang dikenal di Mekkah yakni Khadijah, Asma & Hindun. Mereka seringkali mewakili kalangan Quraish ketika menerima tamu dari Yaman, khususnya dalam misi perdagangan.
Di Mekkah terdapat pasar tahunan yang biasa digelar di Ukadz. Pasar ini terletak di daerah antara Mekkah & Thaif. Mereka biasanya datang ke tempat itu sebelum melaksanakan ibadah haji. Di pasar ini juga para pedagang mendengarkan puisi-puisi yang ditulis oleh penyair Arab. Puncaknya pada abad ke-5, Mekkah disebut-sebut sebagai salah satu pusat perdagangan yang bergantung di dataran Arab. Selain Ukadz ada 2 pasar lagi yang dikenal, yakni Dzul Majaz & Al-Majinnah. Kondisi itu bertahan sampai Muhammad saw, diangkat sebagai utusan Tuhan yang mempunyai tanggung jawab untuk menyampaikan pesan kenabian & kerosulan. Mekkah menjadi pusat perdagangan Arab bertahan sampai pertengahan abad ke-7. Sekitar lebih dari 200 tahun, Mekkah mempunyai pengalaman emas dalam hal perdagangan. Setelah Islam datang, mereka mulai menjadikan tempat-tempat haji yang dikenal sekarang, seperti Arafah & Mina sebagai salah satu pusat perdagangan.
Akar-akar dari perdagangan di Mekkah, menurut Patricia Crone dalam bukunya “Meccan Trade and The Rise of Islam”, dirintis oleh Hasyim. Ia melakukan perjanjian dengan orang-orang Suriah untuk mempermudah perdagangannya sampai akhirnya ia meninggal di Gaza dalam misi perdagangan. Upaya itu dilanjutkan oleh saudara-saudaranya untuk meneruskan perjanjian perdagangan dengan Persia, Yaman, & Habsyah. Adapun tokoh-tokoh kunci yang melakukan perdagangan ke Suriah, antara lain Abu Sofyan, Shafwan Ibnu Umayyah, Utsman, Said Ibnu Al-Ash, termasuk Muhammad saw. Mereka mempunyai tempat khusus di Suriah, bahkan diantara mereka ada yang menetap sampai belasan tahun. Gaza juga diduga sebagai salah satu tempat transit para pedagang dari Mekkah. Hasyim, Abu Sofyan & Abdu Manaf, juga pernah singgah di kota tersebut.
Menurut Crone, Mesir juga menjadi salah satu  persinggahan para pedagang dari Mekkah. Diantaranya Amr bin Ash yang tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pedagang yang menjual wangi-wangian & barang-barang yan terbuat dari kulit. Mughirah bin Syu’bah juga sosok yang terlibat dalam perdagangan di Mesir Yaman juga menjadi tempat yang penting dalam perdagangan Arab. Tokoh-tokoh yang pernah ke Yaman dalam misi perdagangan antara lain Abdul Muthalib, Abbas bin Abdul Muthalib, Abu Rabi’ bin Mughirah, Walid bin Mughirah, Imarah bin Walid, dll. Tempat-tempat yang pernah disinggahi di Yaman, antara lain Radman & Shan’a. Habsyah (Negus) juga menjadi salah satu mitra perdagangan Mekkah. Bahkan Negus menjadi tempat perdagangan yang nyaman & menguntungkan bagi orang-orang Ouraish. Mereka biasanya berdagang di Negus setelah singgah di Yaman. Mereka pun disebut-sebut mempunyai hubungan perdagangan dengan Irak.