Idap HIV, 14 Anak di Solo Ditolak Bersekolah

    Home/Pendidikan / Idap HIV, 14 Anak di Solo Ditolak Bersekolah
Idap HIV, 14 Anak di Solo Ditolak Bersekolah

Idap HIV, 14 Anak di Solo Ditolak Bersekolah

Posted in Pendidikan gjlkc 0

Idap HIV, 14 Anak di Solo Ditolak Bersekolah

Idap HIV, 14 Anak di Solo Ditolak Bersekolah

Idap HIV, 14 Anak di Solo Ditolak Bersekolah

Empat belas anak ditolak bersekolah di salah satu SD negeri di Solo karena ketahuan mengidap HIV AIDS.

Mereka akhirnya memilih “bersembunyi” di suatu lokasi khusus.
SOLO, JAWA TENGAH (VOA) —

“Buka buku tematik… Supaya rumah kita sehat harus diapakan? Dipel, disapu, dibersihkan, semuanya biar rapi dan bersih. Yang ini soal hitung-hitungan, 512 lebih besar atau lebih kecil atau sama dengan 422, ayo coba dihitung yang benar.”

Sekitar 14 anak, dibagi dalam 4 kelompok, Sabtu pagi (16/2), belajar di salah satu ruangan di Yayasan Lentera Solo yang berlokasi di perbatasan Solo dengan kabupaten lain. Mereka sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar dibawah bimbingan lima guru sekolah dasar dimana mereka sebelumnya menimba ilmu.

Salah seorang guru, Siti Nurjanah, mengatakan anak-anak itu sudah tertinggal materi pelajaran sekolah. Oleh karena itu ia bersama beberapa teman sesama guru, secara pribadi mengajar mereka setiap akhir pekan.

“Kami prihatin dengan keadaan mereka. Hampir 2 pekan tidak sekolah.

Mereka ketinggalan materi pelajaran sekolah. Pekan depan kan sudah mau ujian mid semester. Ya, kami ajarkan materi pelajaran sekolah sesuai kurikulum,” kata Siti Nurjanah.
ADHA di Solo belajar dengan mantan guru mereka di Rumah yayasan lentera, Sabtu pagi (16/2) (Yudha/VOA).
ADHA di Solo belajar dengan mantan guru mereka di Rumah yayasan lentera, Sabtu pagi (16/2) (Yudha/VOA).

“Saat belajar di kelas saja, secara kasat mata mereka tampak lelah, kurang fokus apalagi mereka sudah lama tidak sekolah. Kami akan sisihkan waktu setiap akhir pekan, karena sekolah kami kan lima hari, sementara Sabtu-Minggu libur. Jadi kami akan mengajar anak-anak ini di hari Sabtu. Semoga sisa waktu ini bisa mengejar ketertinggalan materi pelajaran sekolah,” ujar Siti.

Empat belas anak penderita HIV/AIDS – atau dikenal dengan istilah “ADHA” (Anak Hidup dengan AIDS) – ini belajar di suatu lokasi yang agak tersembunyi karena tidak bisa melanjutkan pelajaran di sekolah umum akibat penolakan para orang tua siswa lain. Mereka khawatir keempat belas ADHA itu akan menulari siswa-siswa lain di sekolah itu.

Tolak ADHA Bersekolah Langgar HAM

Puger Mulyono, orang tua asuh belasan ADHA yang juga pengelola Yayasan Lentera mengatakan selama tidak bersekolah keempat belas ADHA itu beraktifitas di Rumah Yayasan Lentera, yang merupakan hasil kerjasama Kementerian Sosial, Pemkot Solo dengan bantuan sosial perusahaan. Yayasan Lentera adalah lembaga swadaya masyarakat yang mengurusi ADHA.
/**/ /**/ /**/ Salah seorang dari tiga anak penderita HIV di Pulau Samosir, Sumatera Utara, masih tinggal dengan aman dan tidak diusir oleh warga setempat. (Foto: Anugrah/VOA)
BACA JUGA:

Meski Tak Jadi Diusir, Warga Tetap Tak Mau Anak HIV Bersekolah

Menurut Puger, penolakan orang tua siswa terhadap keempat belas ADHA untuk bersekolah merupakan bentuk nyata pelanggaran HAM dalam memperoleh pendidikan.

“Anak-anak ini selama tidak bersekolah, ya hanya bermain-main di rumah ini. Kadang ada juga relawan yang membantu mereka belajar. Kami manut (menurut-red) saja sama kebijakan pemerintah. Menolak anak-anak itu bersekolah itu adalah pelanggaran HAM, setiap warga negara, termasuk anak-anak kan berhak mendapat pendidikan yang layak,” kata Puger.

“Apalagi untuk ADHA. Di sini ada 32 ADHA dari usia bayi hingga usia remaja. 14 anak yang ditolak sekolah di SD negeri kemarin itu dari kelas 1 sampai kelas 4,” imbuhnya

Lembaran kertas berisi kesepakatan orang tua siswa, Komite Sekolah dan pejabat pelaksana kepala sekolah yang menyatakan keberatan dengan keberadaan keempatbelas ADHA di sekolah tersebut, terpampang dalam sebuah bingkai kaca di depan pintu masuk Rumah Yayasan Lentera di Solo itu. Puger menyebut kertas berisi penolakan ADHA itu sebagai kenang-kenangan.

 

Baca Juga :