Gardana Wong Alit yang Peduli Lingkungan, Olah Sirih Jadi Renyah

    Home/Pendidikan / Gardana Wong Alit yang Peduli Lingkungan, Olah Sirih Jadi Renyah
Gardana Wong Alit yang Peduli Lingkungan, Olah Sirih Jadi Renyah

Gardana Wong Alit yang Peduli Lingkungan, Olah Sirih Jadi Renyah

Posted in Pendidikan gjlkc 0

Gardana Wong Alit yang Peduli Lingkungan, Olah Sirih Jadi Renyah

Gardana Wong Alit yang Peduli Lingkungan, Olah Sirih Jadi Renyah

Gardana Wong Alit yang Peduli Lingkungan, Olah Sirih Jadi Renyah

empat temannya, Gardana Wong Alit terlihat bersemangat menunjukkan berbagai jenis tanaman di SDN Kaliasin 1. Mula-mula, dia menjelaskan jenis tanaman hias yang tergantung di tembok sekolah. Kemudian, dia mengajak Jawa Pos menengok ke lorong bagian timur sekolah. Di lorong selebar 1,5 meter itu, dia menunjukkan puluhan tanaman berdaun hijau. Batangnya saling mengikat, merambat di tembok. Salah satu batang dari tanaman tersebut lantas dia ambil. ”Ini sirih hijau, salah satu tanaman ikon sekolah ini,” ungkapnya.

Di lorong yang dibatasi dinding kelas dan pagar sekolah itulah, Gardana bersama teman-temannya getol mengembangkan tanaman sirih. Ada beberapa cara yang biasa digunakan siswa untuk mengembangbiakkan sirih. Caranya bisa melalui setek, cangkok, dan setek air.

Tanaman bernama latin Piper betle tersebut memang memiliki arti spesial bagi bocah kelahiran 22 Januari 2006 tersebut. Berkat tanaman itu, Gardana dinobatkan sebagai Pangeran Lingkungan Hidup 2016.
Gardana Wong Alit yang Peduli Lingkungan, Olah Sirih Jadi Renyah
Info grafis Gardana Wong Alit Itu (Grafis: Rizky/Jawa Pos/JawaPos.com)

Di tangan Gardana, sirih tidak sekadar obat mimisan. Dia mampu mengolahnya menjadi penganan

yang nikmat dan berkhasiat. Salah satunya membuat sirih menjadi keripik renyah nan gurih. ”Saya buat keripik agar banyak orang yang suka. Biar ndak dikenal sebagai tanaman obat saja,” jelas putra pertama Sardiyoko-Mela Damayanti itu.

Cara membuat keripik sirih tidak sulit. Daun yang telah dipetik kemudian direbus selama 2 menit. Setelah itu, daun dijemur di terik matahari hingga kering. Lalu, daun sirih dicelupkan ke tepung dan digoreng dengan menggunakan minyak panas.

Meski diolah secara sederhana, keripik sirih punya cita rasa yang khas. Sedikit pedas dengan sensasi semriwing. Sementara itu, setelah diolah menjadi keripik, rasa pahit yang biasanya kuat tidak lagi terasa. ”Rasa pahit hilang karena daun sebelumnya direbus,” tuturnya.

Pelajar pelopor Kota Surabaya 2016 itu aktif dalam gerakan botol plastik untuk pohon.

Dia bersama sembilan temannya secara bergiliran memungut sampah botol plastik di sekitar rumah. Setelah terkumpul beberapa karung, dia menjual botol plastik tersebut kepada pengepul barang bekas. Hasil penjualan botol itu dibelikan tanaman untuk penghijauan di rumah warga.

Gardana tak jengah melakukan sosialisasi cinta lingkungan di beberapa tempat umum. Salah satunya di Stasiun Gubeng. Dengan membawa selembar poster, dia menjelaskan mengenai pentingnya mengurangi dan membuang sampah kepada calon penumpang kereta api. Sasaran lain adalah pengunjung mal dan pasar tradisional, siswa sekolah TK, hingga di hadapan ibu-ibu PKK.

Tema sampah dan cara menanggulanginya menjadi fokus utama Gardana. ”Kalau orang sudah sadar membuang sampah, perilaku peduli lingkungan akan mudah tercapai,” terangnya.

Kepedulian Gardana pada lingkungan itu muncul sejak kecil. Sang ayah, Sardiyoko

, menyebutkan bahwa ketertarikan Gardana tersebut dapat dilihat dari kegemarannya bertanya soal nama-nama tumbuhan yang dilihat. ”Sejak kecil, Gardana banyak sekali menanyakan berbagai hal. Kadang kami sampai pusing menjawabnya,” ucapnya, lantas tertawa.

 

Baca Juga :