eSports masuk Asian Games, tapi bisakah disebut sebagai olahraga?

eSports masuk Asian Games, tapi bisakah disebut sebagai olahraga

Menjelang kompetisi Asian Games 2018, para atlet yang akan berpartisipasi terus melatih fisik mereka—tapi tidak demikian bagi Ilham Bahrul.

Satu-satunya latihan fisik yang ia lakukan, kalaupun bisa disebut begitu, ialah meregangkan kedua ibu jarinya.

Laki-laki berusia 22 tahun itu lalu duduk di teras, mengeluarkan ponsel dari sakunya, dan membuka mobile game bernama Arena of Valor, gim strategi di mana Anda terus-menerus menambah kekuatan karakter untuk menghancurkan markas lawan.

Ilham Bahrul adalah salah satu atlet yang terpilih untuk mewakili Indonesia

di cabang olahraga eSports di Asian Games 2018 mendatang.

Penjualan satu tim LoL mendekati harga Rp13 miliar
Kabut asap dikhawatirkan akan ganggu pesta olahraga Asian Games di Palembang
7 alasan mengapa Anda sebaiknya tidak melewatkan Asian Games 2018

Untuk pertama kalinya, Dewan Olimpiade Asia (Olympics Council of Asia, OCA) menyertakan permainan video gim kompetitif alias eSports dalam ajang olahraga paling bergengsi di Asia itu. Kali ini eSports tampil sebagai cabang olahraga eksibisi, yang berarti pemenangnya akan mendapatkan medali namun perhitungan medali tersebut tidak ditambahkan ke klasemen umum.

Kompetisi eSports di Asian Games 2018 akan diselenggarakan oleh OCA

, Komite Penyelenggara Asian Games Indonesia (Inasgoc), Federasi Olahraga Elektronik Asia (AESF). Cabang ini akan melibatkan enam gim, yakni League of Legends, Pro Evolution Soccer, Arena of Valor, Starcraft II, Hearthstone, dan Clash Royale.

Ini bentuk pengakuan yang tidak sepele bagi eSports. Danny Buldansyah

, juru bicara Inasgoc, mengatakan eSports mulai diikutsertakan karena merupakan “bagian dari olahraga modern yang banyak melibatkan kaum millenial, dan sport yang merupakan entertainment yang berkembang pesat di masyarakat.”

 

sumber :

https://merpati.co.id/seva-mobil-bekas/