Asesmen Portofolio

Asesmen Portofolio

Asesmen portofolio merupakan bentuk evaluasi kinerja yang paling populer. Portofolo biasanya berbentuk file atau folder yang berisi koleksi karya pesertadidik. Pada mulanya portofolio digunakan di bidang seni dan menulis, yang diawali mulai dari penulisan draft, revisi, dan produk akhir untuk mengetahui kemajuan peserta didik. Walaupun begitu, asesmen portofolio ini juga digunakan di bidang lain sepertiĀ  matematika dan IPA. Dengan mencatat kemajuan peserta didik, asesmen portofolio digunakan untuk mencatat keberhasilan peserta didik dalam melaksanakan tugas.

Portofolio yang dirancang dengan baik bersi karya peserta didik yang berkaitan dengan tugas-tugas instruksional, dan mencerminkan pencapaian tujuan kurikulum. Pendidik memiliki kesempatan untuk memahamiĀ  apa yang sedang dipelajari oleh peserta didk. Sebagai produk dari kegiatan pembelajaran, portofolio menggambarkan ketrampilan berpikir kompleks dan belajar kontekstual.

Keputusan mengenai hal-hal apa yang dimaksudkan ke dalam portofolio tergantung pada tujuan pembuatan portofolio. Pembuatan portofolio dapat digunakan untuk merekam karya peserta didk, mengkomunikasikan pekerjaannya, dan menghubungkan pekerjaan peserta didik dengan konteks yang lebih luas. Portofolio dapat dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik, meningkatkan belajar melalui refleks dan asesmen diri, dan digunakan untuk menilai proses menulis dan berpikir peserta didik. Isi portofolio dapat digunakan untuk mengukur kebutuhan peserta didik tertentu atau bidang-bidang studi tertentu. Materi di dalam portofolio hendaknya diorganisir dalam bentuk kronologis. Pengorganisasian ini dapat memperlancar penetapan waktu pembuatan komponen-komponen dari suatu folder. Portofolio juga dapat diorganisir berdasarkan pada bidang-bidang kurikulum atau kategori perkembangan anak.

Portofolio dapat dievaluasi dengan dua cara, tergantung pada penggunaan skor. Pertama, yaitu evaluasi berbasis kriteria. Kemajuan peserta didik dibandingkan dengan standar kinerja yang sesuai dengan kinerja peserta didik lainnya, atau kurikulum. Tingkat prestasi dapat diukur dalam bentuk seperti dasar, terampil, mahir atau dapat dievaluasi dengan berbagai tingkatan yang pada akhirnya memberikan peluang untuk membuat perbedaan antar peserta didik. Tenik evaluasi portofolio kedua adalah mengukur kemajuan peserta didik individual pada periode waktu tertentu. Teknik ini digunakan asesmen perubahan pengetahuan atau keterampilan peserta didik.

Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengakses portofolio. Metode evaluasi portofolio dapat dioperasionalisasikan dengan menggunakan rubrik, yaitu pedoman penskoran yang berisi rumusan semua dimensi yang diakses. Rubrik itu dapat berbentuk holistik yang menghasilkan skor tunggal, atau dapat berbentuk analitik yang menghasilkan beberapa skor yang memberi peluang evaluasi pengetahuan dan keterampilan penting. Penentuan rangking yang bersifat holistik, kadang-kadang menggunakan asesmen portofolio, didasarkan pada kesan umum dari suatu kinerja. Dalam hal ini penilai memadukan kesannya dengan skala nilai, umumnya terfokus pada aspek-aspek kinerja spesifik.

Apakah penggunaan pendekatan holistik atau analitik, kriteria penskoran yang baik yaitu mampu mengklarifikasi objektivitas dengan cara memberi informasi kepada peserta didik, meningkatkan objektivitas dengan cara memberi informasi kepada peserta didik tentang seberapa baik mereka itu akan diakses, dan membantu pendidik membuat skor yang akurat dan tidak bias. Evaluasi portofolio juga dapat memanfaatkan pendidik dan peserta didik serta evaluasi teman sebaya. Beberapa pendidik dapat meminta peserta didiknya mengevaluasi pekerjaannya sendiri sebagai bentuk refleksi dan memantau kemajuan belajarnya sendiri.

Ada beberapa masalah berkenaan dengan asesmen portofolio. Salah satu masalahnya adalah ketika asesmen ini digunakan dalam skala besar, karena portofolio memerlukan banyak waktu dan biaya dalam melaksanakan evaluasi, terutama apabila dibandingkan dengan jenis evaluasi lainnya. Pertanyaan lain yang muncul yaitu apakah peserta didik akan menerima rangking atau skor yang diperoleh peserta didik mungkin beberapa apabila pekerjaan peserta didik dikoreksi oleh pendidik yang berbeda.

Ada berbagai cara untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan objektivitas dan reliabilitas asesmen portofolio. Pertama, ketika menilai kinerja, penggunaan rentang skor yang kecil, misalnya A, B, C, D, dan E, dapat menghasilkan skor yang lebih reliabel jika dibandingkan dengan penggunaan rentang skor yang lebih besar. Demikian pula, beberapa guru dapat menggunakan grading holistik dalam mengevaluasi peserta didik. Apabila asesmen portofolio didasarkan pada kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya, reliabilitasnya akan tinggi. Kedua, peningkatan objektivitas asesmen portofolio dapat menggunakan beberapa evaluator. Dengan menggunakan beberapa evaluator, penilaian portofolio dapat membantu memastikan bahwa skor awal yang diberikan oleh evaluator akan menggambarkan kompetensi pekerjaan peserta didik. Ketiga, untuk menguji reliabilitas kor adalah menilai kembali portofolio selama periode waktu tertentu, mungkin satu bulan, kemudian membandingkannya dengan skor portofolio yang diberikan awal penskoran, untuk menegtahui konsistensi penskoran.

Masalah lain adalah pengembangan dan pembuatan rangking pada tugas-tugas portofolio. Untuk memcahkan masalah itu, tugas-tugas portofolio dapat didiskusikan oleh beberapa pendidik yang memiliki latar belakang kebudayaan berbeda. Pendidik tersebut dapat melacak kembali cara-cara peserta didik yang memiliki berbagai latar belakang kebudayaan melaksanakan suatu pekerjaan dan mengakses kembali untuk mengetahui konsistensi penskoran.

Dibandingkan dengan tes formal (tes tertulis dan sejenisnya) asesmen portofolio memiliki berbagai keuntungan, diantaranya :

  1. Dengan menunjukkan apa yang dikerjakan peserta didik pada suatu portofolio, mereka dapat mendemonstrasikan keterampilan dan kompetensinya kepada pendidik, sekolah, dan orang tuanya. Portofolio ini memberikan informasi yang sangat penting di dalam menilai mutu pendidikan dan mutu prestasi peserta didik.
  2. Karena terfokus pada hasil pembelajaran, portofolio dapat diintegrasikan dengan kegiatan pembelajaran.
  3. Sasaran asesmen portofolio adalah kemampuan peserta didik dalam berpikir kompleks, pemahaman mendalam dan penerapan pengetahuan. Bukan sebaliknya pengetahuan dan keterampilan terbatas, seperti mengingat fakta ataupun konsep.
  4. Karena portofolio menawarkan berbagai cara kepada peserta didik untuk mendemonstrasikan apa yang mereka ketahui dan apa yang mereka dapat kerjakan, maka peserta didik terdorong menjadi pembelajar reflektif yang bertanggung jaawab atas pertumbuhan dan perkembangannya sendiri.
  5. Portofolio memberikan kesempatan kepada pendidik untuk memahami apa yang dipelajari oleh peserta didiknya, sehingga para pendidik dapat merancang pembelajaran yang dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik.

Walaupun para pendidik dalam menggunakan asesmen portofolio itu memerlukan banyak waktu dalam mengembangkan, mengimplementasikan, dan menskor portofolio, namun penggunaannya memiliki konsekuensi positif terhadap belajar dan pembelajaran. Demikian pula asesmen ini dapat meningkatkan keterampilan, prestasi, dan motivasi peserta didik untuk belajar.


Sumber: https://civitas.uns.ac.id/kasiono/seva-mobil-bekas/